Dinkes Kalsel Berupaya Tekan AKB Melalui Program MTBS

Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel menggelar Orientasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di Hotel Berbintang, Kabupaten Banjar, Rabu (13/10/2021).

Guna meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat dan upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel menggelar Orientasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) selama tiga hari terhitung dari tanggal 11-13 Oktober 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, Muhammad Muslim mengatakan AKI dan AKB, merupakan indikator Renstra 2020-2024 untuk kegiatan pembinaan kesehatan keluarga, salah satunya adalah jumlah Kabupaten/Kota yang melaksanakan pelayanan kesehatan balita dan anak pra sekolah, dimana dalam indikator tersebut Puskesmas harus melaksanakan pendekatan MTBS yaitu menggunakan algoritma MTBS (formulir pencatatan MTBS) untuk melayani kunjungan bayi muda dan balita sakit.

“Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan MTBS di 5 Puskesmas pada 5 Kabupaten yang dilaksanakan pada bulan September 2021, diketahui bahwa kepatuhan petugas dalam melaksanakan MTBS adalah 24%,” kata Muslim, Rabu (13/10/2021).

Hal tersebut terbukti dari banyaknya formulir MTBS yang tidak diisi bahkan ada yang sama sekali tidak ada formulirnya. Pengisian register rawat jalan MTBS/MTBM juga belum lengkap dan benar.

Oleh karena itu, keadaan seperti ini merupakan gambaran bahwa kualitas pelayanan kesehatan khususnya untuk balita sakit masih sangat rendah.

“Diharapkan agar pengelola program di Provinsi dan Kabupaten/Kota lebih sering melakukan supervisi ke Puskesmas terutama untuk menjaga hasil orientasi, workshop, sosialisasi, pelatihan dan kegiatan serupa lainnya agar dapat benar-benar diterapkan di lapangan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, penerapan MTBS dengan baik dapat meningkatkan upaya penemuan kasus secara dini, memperbaiki manajemen penanganan dan pengobatan, promosi serta peningkatan pengetahuan bagi ibu dalam merawat anaknya di rumah, serta upaya mengoptimalkan sistem rujukan dari masyarakat ke fasilitas pelayanan primer dan rumah sakit sebagai pusat rujukan.

“Oleh karena itu MTBS sebagai salah satu intervensi berbasis data dapat berdampak langsung pada penurunan kematian neonatus, bayi, dan anak balita bila dapat dilaksanakan secara luas dan benar,” tuturnya.

Melalui pertemuan ini, Ia berharap peran dan partisipasi aktif untuk memberikan masukan dan saran yang sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang terjadi, sehingga akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di Kalsel.

Dikesempatan yang sama, Plt. Kepala Seksi Kesga dan Gizi Dinkes Kalsel, Renta Aritonang menambahkan tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam tata laksana MTBS sehingga meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan balita sakit dengan pendekatan MTBS.

“Jadi kegiatan ini untuk meningkatkan para pengelola program dalam melaksanakan pelayanan kesehatan balita dalam rangka menekan kesakitan dan kematian balita,” kata dia.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalsel, jumlah kematian neonatus tahun 2020 ada sebanyak 508 kasus, penyebab kematian Neonatus terbesar adalah BBLR 226 kasus (44,48%) dan Asfiksia 91 kasus (17,91%).

Kemudian kematian bayi 115 kasus, penyebab terbesar adalah pneumonia 11 kasus (9,56%), Diare 11 kasus (9,56%) dan kasus lain-lain 92 kasus (80%). Kematian balita tahun 2020 sebanyak 58 kasus, penyebab terbesar adalah diare 4 kasus (6,89%), pneumonia 3 kasus (5,17%) dan kasus lain-lain 49 kasus (84,48%). Untuk pelayanan Bayi di MTBM mencapai 62,1%, balita di MTBS mencapai 84,1%.

Untuk diketahui, peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 45 orang berasal dari 13 Kabupaten/Kota dan Provinsi terdiri dari
pengelola program terkait MTBS (Gizi, Penyakit Menular, Imunisasi, Farmasi) di Dinas Kesehatan Kalsel pengelola kesehatan balita dan apras (MTBS) dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. MC Kalsel/tgh

Mungkin Anda Menyukai