Pesona Wisata Kahung Terus Dikembangkan

Kepala Dinas Kehutanan Prov. Kalsel, H. Hanif Faisol Nurofiq berikan arahan pada apel peringatan Hari Rimbawan 2018 sekaligus pelepasan Fun Hiking di lapangan Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Sabtu (31/3). Mc Kalsel / Fuz

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalokasikan anggaran  sebesar Rp 4 miliar untuk mengembangkan Hutan Kahung Kabupaten Banjar, menjadi kawasan ekowisata tahun ini.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, H Hanif Faisol Nurofiq, saat memberi arahan pada peserta lomba fotografi Lembah Kahung Journey dan Fun Hiking dalam rangkaian Hari Rimbawan dan Hari Hutan Internasional, di Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Sabtu (31/3).

“Bapak Gubernur H Sahbirin Noor menekankan kepada kita agar dapat meningkatkan pengelolaan destinasi ekowisata, salah satunya adalah Kahung.  Pada tahun 2018 ini , Kahung telah teranggarkan oleh Bappeda sebesar 4 miliar rupiah, ini merupakan perhatian Pemprov Kalsel untuk mengangkat kembali ekowisata di Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Dikatakannya, untuk mendukung ekowisata tersebut perlu infrastruktur dasar yang baik. Pembangunan tersebut diperlukan agar arus wisatawan yang berkunjung ke Kalsel khususnya ke Hutan Kahung semakin lancar, aman dan nyaman.

Menurutnya, penyumbang devisa  Indonesia di urutan kedua dari sektor pariwisata sehingga pariwisata menjadi program strategis nasional, termasuk program prioritas Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Kekayaan alam yang dimiliki Kalimantan Selatan dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisata di daerah. Sumber kekayaan alam ini potensial menjadi modal bagi pengembangan ecotourisme di tingkat nasional maupun internasional.

“Salah satu destinasi yang akan dijual yaitu Kahung Valley atau yang lebih dikenal dengan Lembah Kahung. Pasar kita adalah pasar luar negeri, kita juga sudah menjalin kerja sama dengan negara Finlandia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),” ucapnya.

Kadishut menjelaskan, Kahung memiliki keunggulan komperatif jika dibandingkan yang lainnya. Pertama dari segi alam yang bisa dikatakan Tropical Rainforest yang masih terjaga dengan jangkauan waktu yang lebih pendek untuk dikunjungi, alasan yang kedua adalah dari segi kesiapan desa. “Kalau kita melihat desa wisata di Bali, ya posisinya seperti ini tinggal kita kembangkan saja lagi,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala UPT Tahura Sultan Adam Sri Wuryati, menjelaskan, anggaran Rp. 4 miliar yang bersumber dari APBD tersebut akan digunakan untuk membangun jalur trekking, pembangunan dermaga, mushala, shelter dan pos jaga. Dirinya juga berharap tahapan lelang segera selesai dan bulan Mei sudah mulai pembangunan.

Ekowisata atau ecotourisme, merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Humas Prov – Mc Kalsel / Fuz

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *